Rabu, 04 Agustus 2010

PT Sampoerna Perusahaan Generasi Ketiga yang Sukses


Jakarta – Perusahaan rokok PT H.M. Sampoerna salah satu produsen rokok ternama di Indonesia. Sebagai salah satu dari perusahaan keluarga terbesar di dunia, sejarahnya tak bisa dipisahkan dari sejarah keluarga Sampoerna. Kesuksesan perusahaan tersebut dimulai dari Liem Seeng Tee, Liem Swie Ling dan kemudian diteruskan hingga kini oleh Putera Sampoerna.



Sejarah perusahaan ini dimulai ketika Liem Seeng Tee dan isterinya, Tjiang Nio, mendirikan perusahaan dengan nama Handel Maastchpaij Liem Seeng Tee yang kemudian berubah menjadi NV Handel Maastchapij Sampoerna. Setelah Perang Dunia Kedua, nama perusahaan tersebut di-Indonesia-kan menjadi PT Hanjaya Mandala Sampoerna dengan tetap memakai inisial HM.

Kesempatan muncul pada awal 1916 ketika Liem Seeng Tee membeli berbagai jenis tembakau dalam jumlah besar dari seseorang pedagang tembakau yang bangkrut. Sejak itu Liem Seeng Tee dan Tjiang Nio, isterinya, mencurahkan seluruh tenaganya untuk mengembangkan bisnis tembakau.

Di tengah situasi keuangan yang sulit, Liem Seeng Tee tetap bertekad menjadikan perusahaannya sebagai ”Raja Tembakau” dengan menempatkan huruf Cina ”Ong”, yang berarti ”raja”, di depan produk unggulannya, Dji Sam Soe. Kemudian ia menggabungkan simbol ”Ong” dengan huruf Cina yang berarti ”orang” sehingga menghasilkan kombinasi huruf Cina yang bermakna ”Sampoerna.”

Yang menarik untuk ditelaah jumlah huruf pada kata ”Dji Sam Soe” (234) adalah sembilan bila dijumlahkan. Pada kemasannya jika diperhatikan terdapat sembilan bintang bersudut sembilan. Jumlah huruf dalam angka ”Sampoerna” juga ternyata sembilan. Ini berhubungan dengan kepercayaan di Cina Selatan tentang angka sembilan sebagai angka keberuntungan.

Mungkin sedikit yang masih ingat bahwa produk awalnya yang sempat ngetop di masanya antara lain Sampoerna Star, Summer Palace, dan Statue of Liberty. Sampoerna Star termasuk salah satu rokok berfilter yang pertama di Indonesia. Pada awal tahun 1940 perusahaan ini terus tumbuh dengan pesat. Produksi gabungan rokok lintingan tangan dan rokok lintingan mesin mencapai kurang lebih 3 juta batang setiap minggu. Ketika itu untuk melinting Dji Sam Soe saja diperlukan sekitar 1300 pekerja.

Perang Dunia
Perang Dunia kedua datang dengan pendaratan tentara Jepang langsung memorak-porandakan perusahaan ini. Liem Seeng Tee ditangkap dan dipenjara selama masa perang. Pabriknya dipakai Jepang untuk membuat rokok ”Fuji.” Setelah perang tak satupun harta keluarga ini yang tersisa, selain nama Dji Sam Soe. Setelah perang usai, keluarga ini perlahan-lahan mulai membangun bisnisnya kembali yang ditunjang dengan keberhasilan Dji Sam Soe di pasar, sehingga pada 1949 PT H.M. Sampoerna sudah pulih kembali. Pendirinya, Liem Seeng Tee meninggal pada 1956 dalam usia 63 tahun. Bagaimana kelanjutan dan masa depan perusahaan ini sepeninggalnya?

Sepeninggal Liem Seeng Tee, roda perusahaan dijalankan oleh kedua putrinya, Sien dan Hwee, beserta suami masing-masing. Kerja keras mereka ternyata tak memberikan hasil yang memuaskan. Pasalnya, keadaan ekonomi Indonesia yang semakin memburuk pada akhir tahun lima puluhan dan awal enam puluhan. Generasi kedua keluarga ini tertolong dengan masuknya Liem Swie Ling, yang gaya manajemennya berbeda dengan ayahnya yang selalu hadir dan mengawasi setiap sisi pembuatan rokok.

Liem Swie Ling memanfaatkan tenaga-tenaga manajer yang profesional. Kunci suksesnya adalah kemampuan dan kemauannya untuk bekerja sama dengan semua tingkatan karyawan. Kepekaannya ini terlihat dari upah pelinting di Sampoema yang selalu paling tinggi di Jawa Timur.

Generasi Ketiga
Sejarah mencatat bahwa putra ke dua Liem Swie Ling yakni Putra Sampoerna di awal tahun 1970-an mulai aktif dalam perusahaan. Prestasi pertamanya yang gemilang adalah dalam pengembangan merek rokok ”A.” Tapi usaha kerasnya untuk mengembangkan perusahaan terhadang oleh kebakaran pada pabrik Taman Sampoerna pada 1979. Namun dengan kerja kerasnya, dia tetap bisa mempertahankan produksinya dari Malang dan dalam waktu 24 jam setelah kejadian itu rokok Dji Sam Soe bisa hadir kembali walau dalam jumlah yang terbatas.

Perkembangan perusahaan rokok ini berkembang pesat sehingga tempat produksi di Taman Sampoerna dan di Malang menjadi semakin terbatas sebagai pusat usaha. Akhirnya pabrik ini dipindahkan ke daerah industri Rungkut pada 1982. Sejak itulah tercatat banyak prestasi yang dilakukan oleh perusahaan ini. Di antaranya pendirian laboraturium kontrol untuk memenuhi standar internasional.

Tahun 1989 A-Mild, rokok dengan kadar terendah, diluncurkan. Produk ini sangat sukses di pasaran karena bisa memenuhi keinginan kadar tar yang rendah. Sukses lain adalah dengan terdaftarnya PT H.M. Sampoerna sebagai perusahaan publik pada 27 Agustus 1990. Perusahaan ini ketika itu berhasil menjual sahamnya sebanyak 27 juta dengan harga Rp.12.600/lembar saham.

Sejak 27 Juni 2001, Michael Joseph Sampoerna telah menduduki posisi Presiden Direktur sekaligus sebagai Chief Operating Officer dan Chief Financial Officer Sampoerna. Michael adalah generasi keempat dari keluarga Sampoerna yang telah dipersiapkan sebagai penerus.

Putra Sampoerna, sang ayah masih tetap aktif di perusahaan sebagai Presiden Komisaris di perusahaan itu. Kesuksesan perusahaan ini bukan hanya dalam mempertahankan dan mengembangkan bisnisnya, tapi juga dalam alih generasi kepada yang lebih muda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar